Struktur Dan Sifat Air

Struktur dan Sifat Air
Air merupakan senyawa kimia yang paling umum dan paling sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua keseharian kita selalu tidak pernah lepas dari air, mulai dari kita bangun tidur sampai kita tidur lagi, rasanya tak mungkin kita tidak menyentuh air. Intinya, semua kehidupan keseharian kita tak pernah lepas dari si air. Meskipun begitu, tak banyak orang yang tahu mengenai sifat-sifat dan keunikan yang dimiliki oleh air, Maka pada postingan kali ini, marilah kita ulik beberapa sifat-sifat unik yang dimiliki oleh Air !

Air merupakan pelarut yang sangat baik bagi senyawa ion dan berbagai zat lain yang mampu membentuk ikatan hidrogen dengan air. Air memiliki kalor jenis yang tinggi, hal ini dikarenakan kuatnya ikatan hidrogen yang mengikat antara molekul air yang satu dengan molekul air yang lainya sehingga akan sangat sulit untuk memutuskan ikatan hidrogen tersebut. Dikarenakan tingginya kalor jenis yang dimiliki oleh air, maka air dapat menyerap kalor dalam jumlah cukup besar. Dan juga, air juga dapat melepaskan kalor dalam jumlah yang cukup besar. Dengan kemampuan uniknya ini, air dapat menjaga iklim di daratan sekitarnya dengan cara menyerap kalor pada musim panas dan melepaskan kalor pada musim dingin.

Salah satu keunikan yang dimiliki oleh air ialah sifat kerapatanya yang justru lebih rapat pada fase cair dibandingkan pada fase padat. Biasanya senyawa-senyawa kimia itu memiliki kerapatan yang lebih besar pada fase padat, tetapi hal itu tidak berlaku bagi air.  Sifat uniknya ini dapat kamu amati ketika air membentuk es, coba saja celupkan es ke dalam air, es tersebut pasti terapung dan tidak tenggelam. Hal ini terjadi karena kerapatan air berkurang pada fase es, sehingga ia akan terapung di dalam air.
Struktur dan Sifat Air
Salah satu sifat fisik yang dimiliki oleh air dan tidak dimiliki oleh senyawa kimia lainya ialah jumlah ikatan hidrogenya, Coba kamu tinjau bagaimana struktur molekul air, bila diperhatikan ternyata air memiliki 2 ikatan hidrogen  yang mana senyawa kimia lain yang dapat membentuk ikatan hidrogen seperti NH3 dan HF hanya memiliki 1 ikatan hidrogen. Jadi ini benar-benar sangat unik dan hal itu membuat sifat-sifat yang dimiliki oleh air berbeda dari senyawa kimia lainya.

Di saat air berada dalam fase es atau padat, molekul-molekul air akan membentuk struktur 3 dimensi yang sangat teratur, yang mana hal ini dilakukan untuk mencegah molekul-molekul untuk terlalu dekat satu sama lain. Tetapi coba kamu bayangkan apa yang akan terjadi bila es meleleh ? Pada titik leleh, sejumlah molekul air mempunyai cukup energi kinetik untuk membebaskan diri dari ikatan hidrogen antarmolekul. Akibatnya, molekul-molekul ini menjadi terperangkap dalam rongga -ronga struktur 3 dimensi, yang terpecah-pecah menjadi kumpulan-kumpulan yang lebih kecil. Hasilnya, lebih banyak molekul per satuan volume dalam air cair daripada dalam es. Jadi, karena kerapatan merupakan massa dibagi volume, maka kerapatan air menjadi lebih besar daripada kerapatan es. Dengan pemanasan lebih lanjut, lebih banyak molekul air yang akan lepas dari ikatan hidrogen antar molekul sehingga pada rentang suhu 0-4 C , air akan semakin rapat. Suhu 4 C merupakan suhu dimana air berada pada kerapatan terbesarnya. Tetapi pada suhu diatas 4 C, air akan mengalami pemuaian termal dan kerapatanya akan semakin berkurang.

Pereaksi Fehling : Pengertian, Fakta Dan Kegunaanya


Pereaksi Fehling merupakan reagen yang digunakan dalam uji senyawa karbohidrat. Pereaksi ini memiliki kandungan senyawa kimia yang dapat tereduksi bila di reaksikan dengan senyawa karbohidrat tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam karbohidrat terdapat beberapa gugus fungsi seperti aldehid, hidroksi ataupun keton. Gugus-gugus yang dimiliki oleh karbohidrat tersebut nantinya akan menentukan hasil dari uji karbohidrat itu sendiri.

Pertama, marilah kita ulik beberapa fakta mengenai pereaksi fehling. Pereaksi Fehling ditemukan oleh ahli kimia jerman yang bernama Hermann Von Fehling pada tahun 1849. Pereaksi fehling yang diciptakanya terdiri dari 2 jenis larutan, yaitu larutan fehling A dan larutan fehling B. Larutan fehling A mengandung senyawa CuSO4 yang dilarutkan ke dalam air. Sedangkan larutan fehling B mengandung garam kalium-natrium-tatrat yang dicampur bersama-sama dengan Natrium Hidroksida ( NaOH ). Kedua larutan ini baru akan dicampurkan jika kita akan melakukan uji karbohidrat. Menariknya, yang menjadi bahan aktif kedua larutan ini ialah larutan CuSO4, yang mana senyawa ini yang akan tereduksi jika bereaksi dengan karbohidrat.Ion Cu2+ akan tereduksi menjadi ion Cu+ .

Cara kerja larutan fehling ini pun cukup sederhana, sampel yang akan kita uji kandungan karbohidratnya kita masukkan ke dalam tabung reaksi, lalu larutan fehling kita masukkan dan campurkan bersama-sama dengan sampel. Selanjutnya panaskan kedua campuran ini hingga terjadi perubahan warna pada larutan fehling. Larutan Fehling akan berubah warna dari yang awalnya bewarna biru, berubah warna menjadi hijau hingga merah bata. Bila warna larutan fehling berubah menjadi hijau-kuning, itu tandanya sampel positif mengandung glukosa dengan konsentrasi < 1% , dan bila larutan fehling berubah warna menjadi merah bata, itu tandanya sampel mengandung glukosa dengan konsentrasi >1%.

Larutan Fehling juga dapat kita gunakan untuk membedakan senyawa aldehid dengan keton. Senyawa aldehid akan bereaksi dengan larutan fehling dan larutan fehling akan mengalami reduksi, sedangkan aldehid akan teroksidasi menjadi asam karboksilat. Senyawa keton tidak akan bereaksi dengan larutan fehling. Uniknya, larutan fehling ini tidak dapat bereaksi dengan senyawa aromatik aldehid dan ia hanya bisa bereaksi dengan senyawa aldehid biasa.

Banyak kegunaan larutan fehling diantaranya sebagai uji karbohidrat, uji aldehid, dan uji keton.Sedangkan dalam dunia medis, larutan ini digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya glukosa pada urin penderita diabetes.

Jadi itulah beberapa penjelasan mengenai Pereaksi Fehling, Semoga dapat bermanfaat bagi kamu semuanya. Terima kasih ! dan Salam CHEMISTRY !!

Image By : Wikipedia

Mekanisme Kerja Sabun Sebagai Pencuci

Sabun merupakan benda yang tidak asing lagi bagi keseharian kita. Sabun umumnya banyak kita gunakan untuk mandi atau mencuci pakaian. Sebenarnya, sabun telah lama diciptakan oleh manusia, pada zaman dahulu sabun dibuat dengan cara mereaksikan lemak dengan kalium hidroksida, proses pembuatanya pun cukup sederhana. Nah, tahukah sobat ? Sabun itu sebenarnya merupakan garam Natrium Stearat atau Natrium Palmitat. Rumus kimia sabun ialah R-COONa, Yang mana R ini merupakan gugus alkil dari hidrokarbon. Gugus alkil dari hidrokarbon ini memiliki rumus C17H35, jadi rumus kimia sesungguhnya dari sabun ialah C17H35COONa.

Jika sabun dari garam natrium stearat ini dilarutkan ke dalam air, maka ia akan terurai sesuai dengan persamaan reaksi berikut.

C17H35COONa  → C17H35COO-  +   Na+

Ion stearat ini memiliki 2 buah ujung yang sifatnya berlainan, Pada bagian kepalanya yaitu COO-, itu sifatnya ionik dan mudah larut dalam air atau bahasa kampungnya disebut dengan hidrofilik. Sedangkan pada bagian ekornya yaitu C17H35, itu sifatnya non ionik dan tidak dapat larut dalam air, tetapi hanya larut dalam minyak. Sehingga bagian ekornya kita sebut sebagai hidrofobik atau anti air. Jadi ion inilah yang berperan untuk menstabilkan emulsi antara minyak dengan air. Jadi, tindakan sabun dalam pencucian pakaian dari kotoran yang berlemak didasarkan pada sifat kedua ujung ion stearat ini. Baiklah sekarang mari kita bahas mekanisme kerja sabun, secara umum mekanisme kerja sabun sebagai pencuci dibagi menjadi 2 tahapan. Tahapan pertama disebut dengan Tahap Pembasahan dan tahap kedua disebut dengan Tahap Pencucian. Sekarang mari kita bahas tahap yang pertama !

1. Tahap Pembasahan

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap molekul air akan selalu tarik menarik satu sama lain. Kekuatan tarik menarik ini seimbang dalam segala arah. Pada permukaan air, terjadi 2 arah gaya tarik, yaitu gaya tarik keatas dan gaya tarik ke samping. Kedua arah tarikan ini menyebabkan air memiliki satu lapisan yang tegang. Gaya ini disebut dengan tegangan permukaan air. Tegangan permukaan air ini akan menghalangi air untuk membasahai suatu objek yang akan dicuci. Jika sabun dicampurkan ke dalam air, maka molekul-molekul sabun akan tersebar merata di antara moleukul-molekul air dan hal ini akan menyebabkan gaya tarik menarik antar molekul air akan terhalangi oleh molekul sabun. Sehingga gaya tarik antar molekul air akan melemah dan tegangan permukaan air bisa dikurangi.

2. Tahap Pencucian

Pakaian yang kotor biasanya mengandung minyak atau lemak yang berasal dari badan kita. Nah, pada tahap pencucian ini, molekul-molekul hidrofobik tadi akan berperan untuk melarutkan kotoran-kotoran yang berasal dari lemak tersebut sedangkan molekul hidrofilik akan melarut dalam medium air.

Selama proses pencucian, molekul-molekul air akan menarik bagian kepala molekul sabun yang bersifat hidrofilik, dan bagian kepala molekul sabun akan ikut menarik bagian ekornya yang bersifat hidrofobik sambil menarik kotoran yang mengandung lemak tersebut hingga terpisah dari permukaan pakaian. Lalu lemak akan lepas dan dibawa bersama aliran air. Kotoran yang melekat pada lemak juga turut lepas dalam proses ini dan pada akhirnya pakaian kita pun menjadi bersih.

Jadi itulah 2 tahap mekanisme kerja sabun sebagai pencuci, yang mana pada tahap pertama sabun berperan untuk mengurangi tegangan air agar air bisa membasahi pakaian. Dan pada tahap kedua, sabun berperan dan menjalankan fungsinya sebagai pembersih pakaian. Ok demikianlah postingan mas dennis kali ini, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kamu semua. Terima Kasih dan Salam CHEMISTRY !!

Image By : Pixabay

Teori Asam Dan Basa Arrhenius

Sebelumnya, kita telah membahas mengenai teori asam basa bronsted lowry. Pada pembahasan kali ini, saya akan menjelaskan mengenai teori asam basa Arrhenius yang mana teori ini merupakan teori yang sangat klasik dan telah lama di prakasai.

Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang jika dilarutkan ke dalam air maka akan meningkatkan konsentrasi ion H+, sedangkan basa merupakan zat yang apabila dilarutkan ke dalam air maka akan meningkatkan konsentrasi ion OH-. Ion H+ tidak berupa proton bebas, tetapi terikat secara kimia dengan molekul air membentuk ion H3O+. Ion ini disebut dengan ion Hidronium yang terasosiasi dengan sendirinya melalui ikatan hidrogen dengan sejumlah molekul air. Adanya kedua ion ini menyebabkan terjadinya reaksi swaionisasi air.

H2O  +  H2O ⇄  H3O+  +  OH-

Adanya penambahan zat asam atau zat basa akan mengakibatkan pergeseran kesetimbangan dari reaksi diatas. Masih menurut Arrhenius, Asam kuat merupakan zat yang dapat terionisasi sempurna di dalam air membentuk ion H3O+ dan anion sisa asam. Contohnya Asam Nitrat, HNO3.

HNO3 + H2O → H3O+  +  NO3-

Proses tersebut juga berlaku bagi asam kuat lainya seperti HCl, HBr, HI dll.

Sedangkan Basa Kuat merupakan zat yang dapat terionisasi sempurna di dalam air membentuk ion OH- dan kation sisa basa. Contohnya Natrium Hidroksida, NaOH.

NaOH + H2O → Na+  +  OH-

Proses tersebut juga berlaku bagi basa kuat lainya.

Bukti teori Arrhenius dapat dibuktikan melalui reaksi netralisasi asam kuat oleh basa kuat. Reaksi netralisasi merupakan reaksi antara H3O+ dengan OH-. Seperti yang kita ketahui bahwa reaksi pembentukan air memliki entalpi sebesar -55,90 Kj per mol, nah ternyata reaksi netralisasi ini memiliki jumlah entalpi yang sama dengan reaksi pembentukan air yaitu sebesar -55,9 Kj per mol, hal ini tentu sangat mengejutkan dikarenakan proses yang terjadi melalui jalan yang berbeda, tetapi itulah keistimewaan nya Arrhenius, Beliau bisa meramalkan dengan tepat teori diatas.

Meskipun terdapat beberapa kelebihan dari teori Arrhenius, tetapi kita tidak dapat menolak kekuranganya, teori ini memiliki beberapa kelemahan diantarnya ia hanya membahas reaksi asam basa pada pelarut air saja tidak pada pelarut organik lain seperti benzena, alkohol dll. Yang kedua, kekhasan teori ini sangat kentara dengan pernyataan zat asam ialah zat yang menghasilkan ion H+ dan zat basa ialah zat yang menghasilkan ion OH-, padahal nyatanya banyak zat yang bersifat asam atau zat basa yang tidak dapat melepaskan ion H+ dan OH-.

Cara Atau Metode Pengendalian Korosi


Korosi merupakan suatu peristiwa bersenyawanya atom oksigen dengan berbagai logam yang menyebabkan rapuhnya logam tersebut. Peristiwa korosi ini tidak dapat dicegah karena hal ini merupakan fenomena alam,tetapi korosi dapat dikendalikan. Metode pengendalian korosi yang bisa kita gunakan saat ini ialah dengan cara Pelapisan ( Coating ), Proteksi Katodik, Pemilihan Material, dan Penambahan zat inhibitor korosi. Sekarang mari kita ulik beberapa metode diatas !

1. Pelapisan ( Coating )

Pelapisan merupakan suatu upaya pengendalian korosi dengan cara melapisi permukaan logam yang akan dilindungi dengan berbagai zat. Misalnya dengan cara menyepuh atau mengecat logam tersebut. Pengecatan dilakukan dengan tujuan untuk membatasi kontak permukaan logam dengan udara atau air sehingga korosi bisa dicegah sedini mungkin. Pengecatan dapat dilakukan dengan cara mengecat logam, vernis, dan dienamel.

Sedangkan penyepuhan merupakan suatu upaya pengendalian korosi dengan cara melapisi logam yang akan dilindungi, dengan logam lain yang lebih tahan karat. Misalnya dengan cara menyepuh logam besi dengan logam krom atau nikel, kedua logam tersebut dapat membentuk lapisan oksida yang tahan karat ( pasivasi ) sehingga besi terlindungi dari korosi. Logam seng juga dapat digunakan untuk melapisi besi ( galvanisasi ), tetapi seng tidak dapat membentuk lapisan oksida seperti krom dan nikel, melainkan seng hanya berkorban demi besi. Sehingga seng akan terkorosi lebih dahulu, setelah seng habis terkorosi maka setelah itu besi akan ikut terkorosi juga.

Penyepuhan dilakukan dengan cara mencelupkan logam yang akan disepuh ke dalam larutan garam logam penyepuh, setelah itu logam yang akan disepuh dijadikan sebagai katoda sedangkan logam penyepuh dijadikan sebagai anoda. lalu dilakukanlah elektrolisis terhadap kedua elektroda tersebut. ion-ion logam penyepuh akan menempel dan membentuk lapisan logam pada logam yang akan disepuh dan lama kelamaan lapisan ini akan semakin besar dan melapisi logam tersebut.

2. Proteksi Katodik

Proteksi katodik merupakan suatu metode yang diterapkan untuk mengendalikan korosi pada besi yang dikubur dalam tanah seperti pipa pertamina, pipa ledeng, dan tangki penyimpanan minyak. Proteksi katodik dilakukan dengan cara menghubungkan besi dengan logam yang lebih reaktif seperti magnesium. Karena magnesium lebih reaktif dari besi,maka magnesium akan teroksidasi terlebih dahulu, jadi bila logam magnesium nya telah teroksidasi maka harus secepatnya diganti dengan logam magnesium yang baru agar besi tidak ikut terkorosi. Proses yang terjadi pada peristiwa diatas dapat kita tulis dalam bentuk persamaan reaksi berikut !

Anoda  =  2Mg → 2Mg2+  +  4e

Katoda =  O2 + 2H2O + 4e  →  4OH-

Reaksi keseluruhan = 2Mg  +  O2  +  2H2O → 2Mg(OH)2 ( korosi )

Oleh sebab itu, logam magnesium yang telah terkorosi harus diganti dengan logam magnesium yang baru agar besi tidak ikut terkorosi.

3. Inhibitor Korosi

Inhibitor korosi merupakan suatu zat kimia yang digunakan untuk menurunkan laju korosi pada logam secara efisien. Proses inhibasi ini dilakukan dengan 2 metode yaitu pertama inhibasi antarmuka dan yang kedua inhibasi antarfase. Inhibasi antarmuka merupakan suatu proses perlindungan terhadap logam dengan cara pembentukan lapisan oksida yang akan melindungi logam dari korosi. sedangkan inhibasi antarfase merupakan upaya pencegahan terhadap korosi dengan cara menetralkan lingkungan yang korosif dengan menambahkan zat-zat kimia tertentu.

4. Pemilihan Material

Pemilihan material merupakan cara paling sederhana untuk mengendalikan korosi. Pilihlah logam-logam yang tahan terhadap karat dan memiliki biaya produksi yang murah seperti baja, serat karbon, kuningan dan logam tahan karat lainya.

Jadi itulah beberapa metode pengendalian korosi yang dapat kita terapkan. Pengendalian korosi ini sangat penting mengingat berbagai konstruksi bangunan banyak menggunakan logam, jadi korosi harus dikendalikan sedini mungkin agar hal-hal yang tidak diinginkan bisa ditanggulangi.

Image By : Wikipedia English

Proses Terjadinya Korosi Pada Besi


Besi merupakan logam yang sangat berguna sebagai bahan utama untuk berbagai konstruksi, maka pengendalian korosi pada besi menjadi hal yang penting. Untuk dapat mengendalikan korosi, tentunya kita harus memahami mekanisme terjadinya korosi pada besi. Berdasarkan produk yang dihasilkan, korosi tergolong proses elektrokimia.

Besi memiliki permukaan yang tidak halus akibat komposisi yang tidak sempurna, juga akibat perbedaan tegangan permukaan yang menimbulkan potensial pada daerah tertentu lebih tinggi dari daerah lainya. Pada anode, ( daerah yang biasa bersentuhan dengan air atau kelembapan ) terjadi pelepasan elektron yang disertai dengan pelarutan atom Fe sehingga membentuk ion Fe2+ yang larut dalam air. Berikut ini persamaan reaksinya !

Fe ( s ) → Fe2+  +  2e

Elektron yang dilepaskan dapat mengalir melalui besi, layaknya elektron mengalir melalui rangkaian luar pada sel volta, menuju ke daerah katoda sehingga terjadi reduksi gas oksigen dari udara. Begini persamaan reaksi yang terjadi dalam proses tersebut !

O2 + 2H2O + 2e → 4OH-

Ion Fe2+ yang telah terlarut dalam air tadi bergerak menuju ke daerah katode dan bereaksi dengan ion OH- untuk membentuk senyawa Fe(OH)2.

Fe2+  +  4OH- → Fe(OH)2

Di katode, Fe(OH)2 yang terbentuk dioksidasi lebih lanjut oleh oksigen untuk membentuk karat.

2Fe(OH)2 + O2 → Fe2O3.nH2O ( Rumus kimia karat )

Reaksi kimia terbentuknya karat ialah sebagai berikut.

4Fe + 3O2 + nH2O → 2Fe2O3.nH2O

Karena adanya migrasi ion dan elektron, karat umumnya terbentuk pada daerah yang agak jauh dari permukaan besi yang terkorosi. warna karat bermacam-macam tergantung pada jumlah kristal air yang terikat. Umumnya karat bewarna kuning, merah sampai hitam.

Image By : Pinterest

Hal-Hal Yang Mempengaruhi Kekuatan Asam Biner Dan Asam Okso


Asam merupakan zat yang dapat melepaskan ion H+ ketika dilarutkan ke dalam air,sedangkan Basa merupakan zat yang dapat melepaskan ion OH- ketika dilarutkan ke dalam air. Nah, dari sini kita bisa memandang bahwa kekuatan suatu asam atau basa sangat dipengaruhi oleh kecenderungan suatu ikatan atom untuk melepaskan ion H+ atau ion OH-, bila ikatan atom suatu senyawa H-X cenderung mudah melapaskan ion H+ nya,maka semakin kuat sifat asam yang dimiliki oleh senyawa H-X tersebut, begitu juga sebaliknya. Bila ikatan atom senyawa H-X kuat dan tidak mudah melepaskan ion H+,maka semakin lemah sifat asam dari senyawa H-X tersebut. Baiklah di postingan kali ini, kita akan mengulik beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan asam biner dan asam okso, pertama mari kita ulik beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan asam biner !

A. Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan Asam Biner

Asam biner merupakan asam yang tersusun dari 2 buah unsur. Kekuatan asam biner sangat bergantung pada kekuatan ikatan hidrogen dengan unsur pendampingnya. 2 faktor penting yang mempengaruhi kekuatan ikatan ini ialah keelektronegatifan dan jari-jari unsur pendampingnya. Pada umumnya, atom-atom yang memiliki ukuran yang lebih besar memiliki ikatan kovalen yang lemah. Misalanya begini, antara asam flourida dengan asam klorida, manakah asam yang lebih kuat ? jawabanya yang paling tepat ialah Asam Klorida. Mengapa demikian ? Mari kita tinjau alasanya berdasarkan penjelasan yang saya utarakan sebelumnya. Jari-jari atom sangat memepengaruhi kekuatan ikatan kovalen suatu asam, semakin besar jari-jari suatu atom maka semakin lemah pula ikatan kovalenya dan akibatnya semakin mudah unsur pendamping untuk melepaskan ion H+ nya. kita tinjau senyawa HF dan HCl, unsur Cl memiliki jari-jari atom yang lebih besar dari unsur F, akibatnya Cl lebih mudah untuk melepaskan ion H+ dari ikatanya sehingga kekuatan asam HCl lebih besar dari HF. Jadi jari-jari atom unsur pendamping mempengaruhi kekuatan suatu asam biner. Jadi inilah urutan kekuatan asam biner berdasarkan kenaikan jari-jari atomnya ! Makin kebawah makin kuat !

Asam Gol VI A

1. H2O ( netral )

2. H2S ( Asam Level 1 )

3. H2Se ( Asam Level 2 )

4. H2Te ( Asam Level 3 )

Asam Gol VII A

1. HF ( Asam Level 4  )

2. HCl ( Asam Level 5 )

3. HBr ( Asam Level 6 )

4. HI ( Asam Level 7 )

Selain kenaikan jari-jari atom, keelektronegatifan juga berpengaruh terhadap kekuatan asam biner. Hal ini terjadi karena bila unsur pemdamping memiliki keelektronegatifan yang besar maka kecenderungan unsur pendamping untuk menarik elektron ikatan lebih kuat dibandingkan atom hidrogen, akibatnya ion H+ menjadi lebih mudah terbentuk. Contohnya dapat kamu perhatikan pada ilustrasi dibawah ini, kekuatan asam meningkat seiring dengan naiknya keelektronegatifan !

PH3 → H2S → HCl

Jadi kekuatan asam biner sangat dipengaruhi oleh besarnya jari-jari atom dan tingginya keelektronegatifan. Baiklah sekarang mari kita ulik beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan asam okso !

B.  Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan Asam Okso

Banyak faktor yang memepengaruhi kekuatan asam okso. Biar lebih mudah untuk di ilustrasikan, mari kita ambil 1 contoh sampel misalnya Asam Hipoklorit dengan rumus kimia HClO. Faktor pertama yang ingin saya bahas ialah faktor ukuran jari-jari atom, jika pada asam biner kekuatan asamnya meningkat seiring dengan naiknya jari-jari atom, maka pada asam okso yang terjadi malah sebaliknya ! Semakin besar jari-jari atom, maka semakin lemah asam okso tersebut ! Tinjau faktanya berdasarkan ilustrasi dibawah ini ! kekuatan asamnya makin ke bawah makin lemah !

1. HClO ( pH = 7,53 )

2. HBrO ( pH = 8,56 )

3. HIO ( pH = 10 )

Jadi pada asam okso, semakin besar jari-jari atom maka semakin lemah pula asam okso tersebut !

Sekarang mari kita tinjau dari faktor keelektronegatifan. Pada asam okso, semakin elektronegatif unsur pendamping, maka semakin kuat pula asam tersebut ! Sama seperti penjelasan diatas, HClO lebih kuat daripada Asam HBrO dan HIO karena Cl lebih elektronegatif dibandingkan dengan Br dan I . Faktor selanjutnya yang mempengaruhi kekuatan asam okso ialah banyak tidaknya jumlah atom oksigen yang terikat, jika semakin banyak atom oksigen yang terikat, maka semakin kuat asam okso tersebut ! Tinjau faktanya berdasarkan ilustrasi dibawah ini !

1. HClO ( pH = 7,53 )

2. HClO2 ( pH = 2,0 )

3. HClO3 ( pH = 0-1 )

4. HClO4 ( pH = -8 )

Mengapa jumlah oksigen berpengaruh terhadap kekuatan asam okso ? Hal ini terjadi karena setiap atom oksigen menarik kerapatan elektron dari ikatan Cl-O dalam spesi Cl-O-H sehingga atom O menjadi lebih bermuatan negatif akibatnya atom hidrogen yang terikat pada atom H tersebut mudah dilepaskan sebagai ion H+.

Jadi itulah 3 faktor yang mempengaruhi kekuatan asam okso diantaranya besarnya jari-jari atom, keelektronegatifan, banyak tidaknya jumlah atom O dan kenaikan bilangan oksidasi. Baiklah itulah beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan suatu asam biner dan asam okso, semoga dapat bermanfaat ! Terima kasih dan Salam CHEMISTRY !!

Artikel Terbaik

Artikel Terbaik

Panduan : Cara Menentukan Jumlah Proton,Elektron Dan Neutron Dari Suatu Unsur

Hello Sobat ! Salam Chemistry !! Pada panduan kali ini, kita akan belajar bagaiamana caranya menentukan jumlah proton,elektron dan ne...